Headlines

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Jejak Sejarah Marga Lubis Versi dari Barus ke Mandailing

9:27 AM

Sejarah panjang marga Lubis tak lepas dari akar peradaban tua yang mengakar dalam di wilayah Tapanuli, Sumatra Utara. Catatan lisan dan kisah turun-temurun menyebut bahwa asal mula marga Lubis berawal dari zaman sebelum berdirinya Kerajaan Barus, sebuah kerajaan yang dipercaya sudah ada sejak 300 SM dan berkembang di wilayah yang kini dikenal sebagai Tapanuli Tengah dan beribukota di Pandan sekitar Sibolga. Dalam narasi budaya lokal, keberadaan kerajaan ini erat kaitannya dengan kedatangan sekelompok orang dari daerah Madyan dan Syam di wilayah Arab yang disebutkan bermigrasi ke Sumatra Utara.

Para pendatang ini disebut membawa pengaruh besar terhadap pembentukan tata kelola pemerintahan lokal. Bahkan, legenda menyebut bahwa pasukan Raja Zulkarnaen yang dikenal dari kitab suci dan dongeng Islam pernah sampai ke kawasan Barus. Raja Barus pada masa itu diyakini menerima pelajaran menggunakan pedang dari pasukan Zulkarnaen, yang dikenal sebagai pasukan tangguh dan ditugaskan untuk menghapus kezaliman di berbagai penjuru dunia. Mereka juga diyakini meninggalkan simbol-simbol kepemimpinan seperti pedang dan tombak yang kelak menjadi ciri khas kekuasaan para raja Mandailing.

Kerajaan Barus pun tumbuh menjadi pusat budaya dan perdagangan yang penting, termasuk menjadi tempat singgah pelaut-pelaut Bugis dll dari Sulawesi (jalur penyebaran ras Austronesia) serta menjadi poros penyebaran marga-marga awal di wilayah Tapanuli. Salah satu era penting dalam sejarahnya adalah masa Kejayaan Kerajaan Aru yang berhubungan dengan berbagai kerajaan di Mandailing. Dari sinilah muncul cikal bakal marga Lubis, yang dikenal sebagai penguasa spiritual dan administratif wilayah Mandailing selama berabad-abad.

Raja Lubis dikenal memiliki tiga orang putra, yakni Pande (Pandya?) Julu, Silangkitang, dan Sibaitang. Ketiganya membawa cabang penyebaran marga Lubis ke berbagai daerah. Pande Julu tetap tinggal di wilayah asal kerajaan Barus yang kini menjadi Sibolga, sementara Silangkitang dan Sibaitang merantau ke arah selatan dan timur. Ketika mereka tiba di daerah Natal atau Muara Batang Gadis, wilayah tersebut belum sepenuhnya dikuasai. Para perantau ini kemudian mendirikan pemerintahan baru dan membawa pengaruh budaya dari Kerajaan Barus ke Mandailing.

Kawasan Muara Batang Gadis menjadi titik penting perkembangan kekuasaan marga Lubis. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kerajaan baru ini berhasil memperluas pengaruhnya hingga ke Huta Pungkut, Panyabungan, dan Sipirok. Bagas Godang, bangunan simbolik pusat kekuasaan, dibangun di Huta Pungkut sebagai lambang kekuatan marga Lubis. Di tempat ini pula ditemukan simbol pedang dan trompet yang dipercaya sebagai warisan dari era kerajaan Barus kuno.

Perkembangan sejarah Mandailing tak lepas dari pertempuran-pertempuran besar melawan kekuatan luar. Tercatat bangsa Portugis datang pada era pelayaran dan kolonialisme 3G/Gold, Glory dan Gospel (perjanjian Tordesillas) dan sempat menguasai sebagian Mandailing, namun akhirnya berhasil diusir oleh rakyat setempat. Kemudian, pasukan Inggris datang dan mengalami nasib serupa. Tahun 1780, Belanda masuk dan bertahan hingga 1942. Selama 162 tahun penjajahan itu, para raja Mandailing melakukan perlawanan dengan taktik gerilya yang dipimpin langsung oleh marga Lubis.

Namun jauh sebelum kolonialisme Eropa, Mandailing juga pernah diserbu oleh pasukan dari kerajaan India, Sriwijaya, dan bahkan Mongol. Meski sempat kalah dalam beberapa pertempuran awal, marga Lubis selalu berhasil merebut kembali wilayahnya. Kedatangan pasukan Majapahit juga meninggalkan jejak mendalam. Ketika Raja Mandailing menolak menyerahkan upeti, terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada dan prajurit Mandailing.

Legenda menyebutkan bahwa Raja Lubis menantang pasukan Majapahit melalui pertarungan kerbau sakral bernama Mojo Pahit. Kerbau Mandailing, yang terkenal tangguh, mampu mengalahkan kerbau Majapahit. Akibat kekalahan itu, Majapahit mundur dan tak pernah kembali mencoba menguasai Mandailing. Peristiwa ini memperkuat reputasi marga Lubis sebagai penjaga kehormatan wilayah Mandailing.

Setelah masa konflik besar itu, marga Lubis berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah. Di antaranya adalah Huta Pungkut, Panyabungan, Muara Tais, Garoga, dan sebagian Pasaman. Ada pula yang bermukim di wilayah barat seperti Sibolga dan Natal, serta ke timur hingga Sipirok dan Kota Nopan. Penelitian lisan menyebut bahwa perpindahan ini sebagian besar terjadi akibat tekanan politik dan militer dari luar maupun kebutuhan untuk membuka permukiman baru.

Hingga kini, asal-usul marga Lubis memiliki empat versi utama. Pertama, berasal dari Kerajaan Barus, yakni keturunan awal yang menyebar dari Sibolga. Kedua, dari Kerajaan Mandailing, yakni era Kerajaan Aru. Ketiga, dari Batak kuno di sekitar Borbor, menyebar sekitar abad ke-13. Keempat, versi yang menyebut marga Lubis berasal dari keturunan Bugis, yakni dari Daeng Malela yang menikah dengan perempuan lokal dan menetap di Huta Pungkut sekitar tahun 1270 M.

Meski asal-usulnya beragam, semua versi sepakat bahwa marga Lubis memiliki peran sentral dalam sejarah Mandailing. Mereka tidak hanya dikenal sebagai pemimpin politik dan spiritual, tetapi juga sebagai penjaga adat dan budaya. Bahkan hingga kini, simbol-simbol kerajaan seperti pedang dan trompet masih dipelihara dengan penuh kehormatan di Bagas Godang Huta Pungkut.

Marga Lubis juga dikenal sebagai penjaga warisan budaya yang tangguh. Dalam berbagai perayaan adat, marga ini selalu tampil di garda depan. Mereka menjadi pemandu dalam acara-acara besar seperti pernikahan adat, mangupa, dan pengukuhan raja adat. Keteguhan mereka menjaga tradisi membuat eksistensinya tetap kuat hingga saat ini.

Di tengah modernisasi, para keturunan marga Lubis kini tersebar ke berbagai penjuru Indonesia dan dunia. Banyak di antaranya yang sukses di bidang politik, pendidikan, hukum, dan militer. Meski berada jauh dari tanah leluhur, nilai-nilai Mandailing dan semangat perjuangan nenek moyang tetap mereka junjung tinggi.

Tak berlebihan jika marga Lubis disebut sebagai penjaga sejarah Mandailing. Perjalanan panjang dari era Raja Zulkarnaen, Kerajaan Barus, hingga perjuangan melawan Majapahit dan penjajah Eropa menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan identitas dan kehormatan. Marga Lubis bukan hanya sekadar nama, tetapi simbol ketahanan, kehormatan, dan kebangsawanan Mandailing yang tak lekang oleh waktu.

Dibuay oleh AI


Jejak Tentara Non-Organik Aceh di Tanah Jawa, Simalungun sebelum Belanda

10:30 PM

Sebuah penemuan menarik di Mardjan, Aseh, sebuah wilayah yang terletak di lanskap Tanah Jauh, Simalungun, Jawa, membuka tabir sejarah mengenai jejak kehadiran kekuatan dari Aceh di jantung Pulau Jawa. Prasasti pada sebuah objek yang dianggap kramat, bertuliskan dalam bahasa Belanda, mengungkap bahwa tempat tersebut dulunya merupakan permukiman bagi keturunan tentara non-organik Aceh yang bertugas untuk penguasa Tanah Jauh. Informasi ini memantik diskusi baru mengenai luasnya pengaruh Kesultanan Aceh di masa lampau, jauh melampaui batas teritorialnya di ujung barat Nusantara.

Penyebutan "tentara non-organik" mengindikasikan bahwa mereka bukanlah bagian dari struktur militer reguler kerajaan Tanah Jauh. Kemungkinan besar, mereka adalah kelompok prajurit yang didatangkan dari Aceh berdasarkan suatu perjanjian atau aliansi politik antara kedua kekuatan tersebut. Kehadiran mereka di Simalungun, yang kini menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara, mengisyaratkan adanya interaksi yang signifikan antara Aceh dan kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa pada masa sebelum kolonialisme Belanda menginjakkan kaki di bumi pertiwi.

Temuan ini seolah mengamini catatan sejarah dan peta kekuasaan Aceh yang pernah dikirimkan kepada Kekaisaran Ottoman Turki sebelum invasi Belanda.
Peta tersebut disinyalir mencantumkan wilayah Simalungun sebagai salah satu area yang berada di bawah pengaruh atau bahkan kekuasaan Kesultanan Aceh. Jika hal ini terkonfirmasi, maka implikasinya terhadap pemahaman sejarah politik dan budaya di Sumatera Utara dan Jawa akan sangat besar.

Mengapa tentara dari Aceh berada jauh di Tanah Jawa, tepatnya di Simalungun? Beberapa spekulasi muncul terkait hal ini. Kemungkinan pertama adalah adanya aliansi militer antara penguasa Simalungun dengan Kesultanan Aceh untuk menghadapi ancaman eksternal atau persaingan antar kerajaan di Tanah Jawa. Kehadiran tentara Aceh bisa jadi merupakan bentuk dukungan atau bahkan penempatan pasukan untuk menjaga stabilitas kekuasaan sekutu mereka.

Kemungkinan kedua adalah adanya migrasi atau penempatan kelompok etnis Aceh dalam jumlah signifikan di wilayah Simalungun pada masa lalu. Para tentara non-organik ini bisa jadi merupakan bagian dari gelombang migrasi tersebut, yang kemudian menetap dan berketurunan di sana setelah masa tugas mereka berakhir atau karena alasan-alasan lain. Permukiman di Mardjan, Aseh, menjadi saksi bisu dari keberadaan komunitas tersebut.

Penemuan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana kebudayaan Aceh dapat berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya lokal Simalungun. Jejak-jejak linguistik, arsitektur, atau tradisi lokal mungkin menyimpan petunjuk mengenai pengaruh Aceh yang dibawa oleh para tentara non-organik dan keturunan mereka. Penelitian lebih lanjut, termasuk analisis artefak dan catatan sejarah lokal, diperlukan untuk mengungkap lebih dalam mengenai interaksi budaya ini.

Keberadaan kramat "Panghoeloe Balang" sendiri mengindikasikan bahwa sosok atau kelompok tentara Aceh ini memiliki peran penting atau dihormati oleh masyarakat setempat. Gelar "Panghoeloe Balang" dalam tradisi Aceh merujuk kepada seorang pemimpin militer atau tokoh penting dalam masyarakat.

Penggunaan gelar ini untuk menamai tempat kramat di Simalungun menunjukkan adanya memori kolektif atau penghormatan terhadap kontribusi atau keberadaan kelompok tentara Aceh tersebut.

Implikasi dari penemuan ini terhadap historiografi Indonesia sangat signifikan. Selama ini, narasi sejarah seringkali terfokus pada interaksi antara kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan kekuatan-kekuatan dari luar pulau. Bukti kehadiran pengaruh Aceh di Simalungun membuka perspektif baru mengenai jaringan aliansi dan interaksi politik yang kompleks di Nusantara sebelum kedatangan penjajah.

Penelitian arkeologis dan historis yang lebih mendalam di wilayah Mardjan dan sekitarnya sangat dibutuhkan untuk menguak lebih banyak informasi mengenai permukiman tentara non-organik Aceh ini. Artefak-artefak yang mungkin terkubur di bawah tanah, catatan-catatan lokal yang mungkin terlupakan, serta analisis DNA dari keturunan masyarakat setempat dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai asal-usul, kehidupan, dan pengaruh kelompok ini.

Selain itu, penelusuran arsip-arsip Kesultanan Aceh dan kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa, serta dokumen-dokumen dari Kekaisaran Ottoman Turki, dapat memberikan konteks politik dan militer yang lebih luas mengenai hubungan antara Aceh dan Simalungun pada masa lampau. Informasi dari berbagai sumber ini akan membantu merekonstruksi narasi sejarah yang lebih komprehensif dan akurat.


Penemuan di Mardjan, Aseh, Simalungun, bukan hanya sekadar temuan arkeologis, tetapi juga merupakan jendela menuju masa lalu yang kompleks dan penuh kejutan. Kehadiran tentara non-organik Aceh di jantung Tanah Jawa menjadi bukti betapa luas dan dinamisnya interaksi antar kerajaan dan kelompok etnis di Nusantara sebelum era kolonial. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak lagi misteri sejarah yang tersembunyi di berbagai sudut kepulauan Indonesia.

Temuan ini juga dapat menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan situs-situs bersejarah dan artefak-artefak budaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap peninggalan masa lalu menyimpan cerita unik yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang identitas bangsa dan kompleksitas sejarah Nusantara. Upaya pelindungan, penelitian, dan publikasi temuan-temuan sejarah seperti di Mardjan, Aseh, menjadi krusial untuk memastikan warisan budaya ini dapat terus dipelajari dan dihargai oleh generasi mendatang.

Kisah tentang tentara non-organik Aceh di Simalungun adalah sebuah narasi yang menarik dan patut untuk terus digali. Ini adalah bagian dari mozaik sejarah Indonesia yang belum sepenuhnya terungkap, sebuah bukti bahwa masa lalu bangsa ini jauh lebih kaya dan beragam dari apa yang selama ini kita ketahui. Dengan penelitian yang berkelanjutan dan pendekatan interdisipliner, kita dapat terus membuka lembaran-lembaran sejarah yang tersembunyi dan memperdalam pemahaman kita tentang akar budaya dan peradaban Nusantara.

Penemuan ini juga dapat menjadi inspirasi bagi para sejarawan dan peneliti untuk lebih aktif mencari dan menganalisis bukti-bukti sejarah yang mungkin terabaikan selama ini. Perspektif baru dan pendekatan metodologis yang inovatif diperlukan untuk mengungkap narasi-narasi sejarah yang tersembunyi di balik catatan-catatan resmi atau artefak-artefak yang tampak biasa. Kisah tentara non-organik Aceh di Simalungun adalah contoh bagaimana sebuah prasasti sederhana dapat membuka babak baru dalam pemahaman sejarah bangsa.

Lebih lanjut, temuan ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan lokal di Simalungun dan sekitarnya. Masyarakat setempat dapat lebih menghargai warisan sejarah di wilayah mereka dan merasa terhubung dengan jaringan sejarah yang lebih luas, yang melibatkan Aceh dan bahkan mungkin Ottoman Turki. Ini dapat memperkuat rasa identitas dan kebanggaan akan akar budaya mereka.

Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih besar terhadap penelitian dan pelestarian situs-situs bersejarah di seluruh Indonesia, termasuk di Simalungun. Investasi dalam arkeologi, sejarah, dan pelestarian warisan budaya adalah investasi jangka panjang dalam pemahaman dan penguatan identitas nasional.

Kisah tentang kramat "Panghoeloe Balang" dan tentara non-organik Aceh di Simalungun adalah sebuah pengingat bahwa sejarah Indonesia adalah sebuah anyaman yang rumit dan kaya, menghubungkan berbagai wilayah dan kelompok etnis dalam jalinan interaksi yang dinamis. Penemuan ini membuka peluang untuk menulis ulang dan memperkaya narasi sejarah bangsa, mengakui dan menghargai kontribusi dari berbagai pihak dalam pembentukan peradaban Nusantara.

Dengan terus menggali dan mempelajari jejak-jejak masa lalu, kita dapat lebih memahami akar budaya dan identitas bangsa Indonesia yang beragam. Kisah tentara non-organik Aceh di Simalungun adalah salah satu dari sekian banyak cerita yang menunggu untuk diungkap, sebuah mozaik sejarah yang akan terus memperkaya pemahaman kita tentang diri kita sendiri sebagai sebuah bangsa.

Penelitian mendalam terhadap temuan di Mardjan, Aseh, Simalungun, diharapkan dapat memberikan jawaban yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara Aceh dan Tanah Jawa pada masa lampau. Ini adalah sebuah perjalanan intelektual yang menarik dan berpotensi mengubah pemahaman kita tentang sejarah Nusantara sebelum kedatangan kolonialisme.

Jejak tentara non-organik Aceh di Simalungun adalah sebuah babak sejarah yang menarik untuk diungkap lebih lanjut, sebuah bukti bisu tentang kompleksitas interaksi antar kerajaan dan kelompok etnis di Nusantara.

Jejak Sriwijaya di Tarombo Batak dan Tabagsel

8:45 PM
Medan, Sumatera Utara - Sebuah diskusi menarik di stasiun radio lokal baru-baru ini membuka tabir sejarah yang menghubungkan dua kekuatan besar di masa lalu Nusantara, Sriwijaya dan Kerajaan Panai, yang berpusat di wilayah Tabagsel. Seorang keturunan Panai, dalam penjelasannya, tidak hanya mengurai makna gelar "Namora Sodoguron" yang disandangnya, tetapi juga menyingkap jalinan pernikahan dan pengaruh Sriwijaya yang merasuk jauh ke dalam tradisi dan silsilah masyarakat Mandailing, Tabagsel, dan Batak secara luas.

Menurut penuturan narasumber, gelar "Namora Sodoguron" diperoleh melalui pernikahan dengan keturunan seorang Mahapatih dari Sriwijaya. Pernikahan ini menjadi kunci untuk memahami hubungan yang kompleks antara kedua entitas politik tersebut. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa Ompu Sodoguron, leluhur dari pihak narasumber, menikahi seorang Putri Panai, semakin mempererat tali kekerabatan di antara kedua keluarga besar ini.

Sebuah pertanyaan menarik muncul mengenai akuisisi Sriwijaya terhadap Panai. Alih-alih melihatnya sebagai agresi murni antar kerajaan yang berbeda, narasumber justru memberikan perspektif yang mengejutkan. Menurutnya, relasi tersebut terjadi dalam konteks hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin melalui pernikahan. Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika politik dan kekuasaan pada masa itu seringkali dipengaruhi oleh jalinan kekerabatan yang rumit.

Pernikahan narasumber dengan keturunan Mahapatih Sriwijaya semakin memperkuat pandangan ini, menghubungkan dirinya secara langsung dengan konteks historis yang sedang dibahas. Lebih lanjut, narasumber mengidentifikasi Hasibuan sebagai bagian dari Boru Pusako di Tabagsel, sebuah istilah yang merujuk pada kelompok marga atau keluarga inti yang memiliki kedudukan penting dalam struktur sosial masyarakat setempat.

Keterkaitan antara Sriwijaya dan Panai tidak hanya terbatas pada pernikahan dan potensi konflik internal. Sejarah mencatat bahwa kedua kekuatan ini pernah menghadapi ancaman eksternal yang sama. Pada abad ke-11 Masehi, pasukan Rajendra Chola dari kerajaan India menyerbu wilayah Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya dan Kerajaan Panai.

Serangan ini merupakan bagian dari ekspansi maritim kerajaan Chola yang ambisius. Fakta bahwa keduanya menjadi target serangan yang sama semakin menunjukkan kedekatan geografis dan kemungkinan aliansi atau setidaknya interaksi yang signifikan di antara mereka.

Lebih jauh dari sekadar hubungan politik dan militer, pengaruh Sriwijaya ternyata meresap jauh ke dalam aspek budaya dan sosial masyarakat Mandailing, Tabagsel, dan Batak secara keseluruhan. Hal ini tercermin dalam berbagai elemen tradisi, bahasa, dan terutama dalam sistem kekerabatan atau tarombo. Jejak-jejak nama, gelar, dan konsep-konsep yang berasal dari era Sriwijaya dipercaya masih dapat ditemukan dalam struktur sosial dan adat masyarakat di wilayah tersebut.

Penting untuk dicatat bahwa tarombo, sebagai catatan silsilah yang sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat Batak, Mandailing, dan Tabagsel, kemungkinan menyimpan memori kolektif tentang interaksi dan perkawinan dengan tokoh-tokoh penting dari Sriwijaya. Adanya tokoh seperti Namora Sende yang memiliki dua versi penyebutan (versi umum dan versi Hasibuan) bisa menjadi indikasi adanya asimilasi dan adaptasi nama atau gelar dalam perkembangan sejarah lokal.

Pengaruh Sriwijaya di wilayah ini tidaklah mengherankan mengingat dominasi kerajaan maritim tersebut selama berabad-abad di Sumatera. Sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan yang besar, Sriwijaya tentu memiliki interaksi yang intens dengan wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk kerajaan-kerajaan yang lebih kecil seperti Panai. Interaksi ini tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi dan politik, tetapi juga merembes ke dalam ranah sosial dan budaya.

Hipotesis mengenai pengaruh Sriwijaya dalam tarombo masyarakat Batak, Mandailing, dan Tabagsel membuka ruang penelitian yang menarik. Para ahli sejarah dan antropologi dapat meneliti lebih lanjut mengenai kemiripan nama, gelar, dan struktur sosial antara era Sriwijaya dan tradisi masyarakat di wilayah tersebut. Analisis linguistik juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kata-kata serapan atau konsep budaya yang mungkin berasal dari pengaruh Sriwijaya.

Kisah yang terungkap dari diskusi radio ini memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah Sumatera Utara, khususnya wilayah Mandailing dan Tabagsel. Hubungan antara Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di wilayah ini ternyata jauh lebih kompleks dan melibatkan jalinan pernikahan, potensi konflik internal, serta pengaruh budaya yang mendalam.

Penjelasan dari keturunan Panai ini menjadi pengingat bahwa sejarah lokal seringkali menyimpan detail-detail penting yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang interaksi antar peradaban di masa lalu. Jejak Sriwijaya tidak hanya tertinggal di Palembang sebagai pusat kekuasaannya, tetapi juga tersebar di berbagai wilayah lain di Sumatera, termasuk di tanah Batak.

Dengan menelusuri jejak-jejak ini, kita dapat merekonstruksi gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana Sriwijaya berinteraksi dengan wilayah-wilayah di sekitarnya, bagaimana pengaruhnya menyebar, dan bagaimana interaksi tersebut membentuk identitas dan tradisi masyarakat setempat hingga kini.

Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengkonfirmasi dan memperdalam pemahaman kita tentang warisan Sriwijaya di tanah Batak.

Kisah ini adalah contoh bagaimana tradisi lisan dan pengetahuan lokal dapat menjadi sumber informasi yang berharga dalam mengungkap lapisan-lapisan sejarah yang mungkin tidak tercatat dalam kronik-kronik resmi. Mendengarkan cerita dari para keturunan langsung dapat memberikan perspektif yang unik dan memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu yang kompleks dan saling terhubung.

Jejak pernikahan antara keluarga kerajaan Sriwijaya dan Panai menjadi simbol betapa eratnya hubungan antara kedua kekuatan ini. Meskipun catatan sejarah tentang invasi mungkin memberikan kesan adanya konflik, latar belakang kekerabatan menunjukkan adanya dinamika yang lebih nuanced. Pengaruh Sriwijaya yang merasuk ke dalam tarombo dan tradisi masyarakat Batak, Mandailing, dan Tabagsel adalah bukti nyata dari interaksi yang mendalam dan berlangsung lama.

Kisah ini mengajak kita untuk melihat sejarah tidak hanya dari catatan peperangan, tetapi juga dari jalinan perkawinan dan pertukaran budaya yang membentuk peradaban Nusantara.


Sultan Muzaffar Shah III alias Syeikh Ahmad Alqomi dan Sejarah Kerajaan Islam Siam yang Merupakan Bagian dari Kedah Pasai Ma

11:25 AM
Sultan Muzaffar Shah III yang merupakan raja terakhir Kerajaan Islam Benua Siam ternyata pendiri Kerajaan Ayutthaya atau Ayutia yang pernah berkuasai sampai dirunruhkan Sukhothai.

Sultan Muzaffar Shah III inilah yang digelar Syeikh Almad Alqomi yang banyak keluarganya menjadi bangsawan Thailand sampai sekarang dengan marga Bunnaq dan Ahmad Cula bagi yang masih Muslim.

Lihat referensi:



3. Sejarah Kerajaan Islam Siam (note Thaksin berasal dari kata Mukhtar Hussin)


Sejarawan Thailand Akui Orang Melayu Sudah Eksis di Sebagian Besar Siam sebelum Migrasi Bangsa Thai

10:11 PM
Makin banyak sejarawan Thailand yang mengakui bahwa orang Melayu telah menjadi penduduk sebagian besar negara Thailand sekarang sebelum migrasi orang-orang Thai.

Migrasi orang-orang Thai dari Selatan Tiongkok terjadi secara bertahap dalam beberapa abad sehingga menguasai tanah-tanah Melayu yang belakangan menjadi Sukothai, Ayutthaya dan terakhir Thailand.

Walau pendapat ini tidak disukai oleh kebanyakan orang Thailand, namun menunjukkan fakta bahwa Thailand adalah negeri Melayu yang hilang oleh migrasi orang-orang dari Tiongkok sebagaimana Champa yang dikuasai Khmer.

Siapa Pembuat Lukisan Berumur 44 Ribu Tahun di Sulawesi?

11:22 AM
ilustrasi


Lukisan di dinding gua yang disebut tertua di dunia ditemukan di sebuah gua di Leang Bulu Sipong 4, Sulawesi. Usianya diperkirakan 44 ribu tahun.

Lukisan tersebut ditemukan pada tahun 2017, namun hasil penelitiannya baru dipublikasikan di jurnal ilmiah nature. Tim periset berasal dari Griffith University di Brisbane, Australia.

Dikutip detikINET dari Live Science, lukisan ini menggambarkan 8 figur kecil yang terlihat seperti manusia, menggunakan tombak dan tali untuk memburu 6 binatang. Empat binatang adalah anoa dan dua berjenis babi liar.

Menariknya, gambar manusia itu juga memiliki unsur binatang lantaran tampak ada ekor dan moncong. Figur perpaduan manusia dan binatang ini mungkin adalah penggambaran dewa atau roh.

Dengan menganalisis uranium dan isotop radioaktif yang terbentuk, ilmuwan mengestimasi usia lukisan tersebut setidaknya adalah 43.900 tahun.

Panel lukisan itu lebarnya 5 meter. " Saya belum pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Memang ada ratusan seni bebatuan di wilayah ini, namun belum ada yang menggambarkan perburuan," kata Adam Brumm, arkeolog dari Griffith.

Lukisan bersangkutan bukan yang tertua di dunia. Tahun silam, ilmuwan menemukan lukisan yang usianya diperkirakan 73 ribu tahun di Afrika Selatan.

Namun demikian, mungkin lukisan di Sulawesi adalah yang paling tua dalam kategori lukisan yang punya cerita, dalam hal ini perburuan.

"Sebelumnya, seni di bebatuan di situs Eropa yang usianya sekitar 14 ribu sampai 21 ribu tahun dianggap sebagai seni narasi yang paling tua," sebut para ilmuwan.

Pandangan lain mengatakan lukisan ini tidak dibuat dalam satu waktu, namun berkelanjutan ditambah dalam waktu yang lebih lama.

Bahasa Melayu Thai Mirip Bahasa Minang

12:37 AM
ilustrasi
DI Thailand ternyata tidak semua warganya berbahasa Thai. Sebagian mereka malah berbahasa Melayu. Bukan  Melayu Indonesia-Sumatera ataupun Melayu-Malaysia. Lalu?

Di sekolah tempat saya berlatih mengajar, Phrateepsaart Islam Vittya Mulnithi School di Provinsi Songkhla, di sini tak semua bisa berbahasa Melayu. Warga yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu, tetap menguasai bahasa Thai dengan utuh.

Tetapi mereka yang berbahasa Thai sebagai bahasa ibu, tak semuanya bisa berbahasa Melayu. Contohnya, para murid dan guru-guru di sekolah ini, ada yang bisa berbahasa Melayu dan Thai.

Para dwibahasawan ini akan menyesuaikan jika berbicara dengan lawan bicaranya. Jika lawan bicaranya hanya bisa berbahasa Thai, mereka akan menggunakan bahasa Thai, dan sebaliknya. Jika lawan bicaranya dwibahasawan juga, mereka lebih memilih berbahasa Melayu ketika berkomunikasi.

Bahasa Melayu-Thailand  di sini hampir semua huruf vokal [a] di belakang kata akan berubah menjadi [o] seperti pengucapan kata  [logat]. Contohnya, saya menjadi sayo, banyak menjadi banyok, kakak menjadi kakok, sama-samo, ada-ado, bapak-bapok, budak-budok, mana-mano, biasa-biaso, telinga-telingo, mata-mato, minta-minto, semua-semuo, lupa-lupo, saja-sajo, dan sudah-sudoh.

Untuk kata berakhiran –an dan –am, akan berubah menjadi vokal [e] seperti pengucapan kata [enak]). Contohnya, makan emnjadi make, jalan-jale, jangan-jange, bukan-buke, depan-dape, bulan-bule, enam-ene, demam-deme, imam-ime, dalam-dale, dan paham-pahe/pehe.

Untuk kata tanya yang digunakan pun serupa tapi tak sama. Siapa menjadi piyo/siapo, di mana menjadi dok-mano, bagaimana menjadi bekno, apa menjadi gapo/apo, kapan menjadi bilo, mengapa menjadi wakpo, dan ke mana menjadi kano. (sumber)

Daftar Nomor Penting di Tapanuli Utara dan Sekitarnya

12:17 AM
ilustrasi

Polres Tapanuli Utara 063320110, Kapolsek Sipoholon 08116535364, Bandara Silangit 063341920, Damkar Taput063324050, RSUD Tarutung (0633) 21303, PU Kabupaten Taput 085275573782, Alat berat 081362404275, Camat Sipoholon 085360395898, Danramil Sipoholon 081360453121, Unit Laka Polres Taput 08126260266, Unit Patwal Sat Lantas Polres Taput 082363429292, Loket angkutan KBT 063321090, Hotel Parona Silangit 063341515, Hotel Parona Siborong-borong 063341266, Hotel Roma Anugerah 063342247, Hotel Bali Tarutung, 063321627, Hotel Perdana Tarutung 063321285, Hotel BBC Sipoholon 0633322123, Hotel Diaji Tarutung 063321627, Hotel Sentosa Muara 063342666, Hotel Kenary Tarutung 063321674, Loket KBT Siborong-borong 085275654666, Loket Sitra, 082165131670, Loket CV Berlian Trans 082168322900, Loket Bintang Utara, 085297359102, Loket Indah Karya 081264967641, Sewa Mobil: 085212825872, UD Paju Marbun: 081396206595.

MOHON DOA RESTU & DUKUNGANYA
#PartaiBulanBintang
#CalegPBB19
#DapilSumut2
#NomerUrut8
#MuslimatBulanBintang
#PemudaBulanBintang
--》》 Pemilu Legislatif 2019 pilih Caleg PBB 19, Coblos Caleg Nomer Urut 8 Dapil Sumut2
 H. JULKIFLI MARBUN, MA 《《--
 
Copyright © Melayu Siam. Designed by OddThemes