Headlines

UEA Pemain Baru Paska Hilangnya Pengaruh Irak dan Libya

Selama beberapa dekade, Irak dan Libya pernah dipandang sebagai negara kuat yang mampu mendukung kelompok oposisi dan aktor non-negara di berbagai kawasan. Peran itu membuat keduanya disegani sekaligus ditakuti, sebelum akhirnya runtuh akibat perang, sanksi, dan intervensi internasional.

Dalam lanskap geopolitik Timur Tengah dan Afrika hari ini, sejumlah analis menilai posisi tersebut perlahan diisi oleh Uni Emirat Arab. Negara Teluk yang relatif kecil secara geografis itu kini muncul sebagai aktor regional dengan pengaruh luas dan lintas negara.

Berbeda dengan Irak era Saddam Hussein atau Libya di bawah Muammar Gaddafi, UEA tidak membawa ideologi revolusioner. Pendekatannya bersifat pragmatis, berfokus pada stabilitas versi Abu Dhabi, keamanan jalur dagang, serta pengaruh strategis.

Manuver UEA terlihat melalui dukungan terhadap aktor lokal dan kelompok bersenjata di sejumlah konflik. Pola ini tidak dilakukan secara terbuka, melainkan lewat dukungan logistik, keuangan, teknologi, dan jejaring regional.

Di Libya pasca-Gaddafi, UEA kerap disebut sebagai pendukung salah satu faksi utama. Keterlibatan ini menjadikan Abu Dhabi pemain penting dalam penentuan keseimbangan kekuatan di negara tersebut.

Di Sudan, tudingan terhadap keterkaitan UEA dengan Rapid Support Forces terus mencuat. Meski Abu Dhabi membantah, isu tersebut menempatkan UEA dalam sorotan tajam di Afrika Timur Laut.

Pendekatan ini menimbulkan reaksi beragam dari negara-negara sekitar. Arab Saudi, sebagai mitra dekat UEA, menunjukkan sikap ambigu antara kerja sama dan kehati-hatian. Riyadh masih melihat Abu Dhabi sebagai sekutu strategis, namun juga menjaga jarak agar tidak terseret ke konflik yang berisiko.

Di Yaman, manuver UEA memunculkan dinamika tersendiri. Dukungan Abu Dhabi terhadap kelompok tertentu di selatan Yaman sempat menimbulkan ketegangan dengan pemerintah yang diakui internasional dan bahkan dengan kepentingan Saudi sendiri.

Mesir cenderung merespons positif peran UEA. Kairo melihat Abu Dhabi sebagai mitra penting dalam menghadapi ancaman Islam politik dan menjaga stabilitas regional, terutama di Libya dan Laut Merah.

Somalia justru menunjukkan sikap yang lebih tegas. Pemerintah Mogadishu membatalkan sejumlah perjanjian dengan UEA, menandai penolakan terhadap keterlibatan asing yang dianggap melampaui batas kedaulatan.

Langkah Somalia itu menjadi sinyal bahwa tidak semua negara nyaman dengan strategi UEA. Di Tanduk Afrika, pengaruh Abu Dhabi melalui pelabuhan dan logistik kerap dipandang sebagai pedang bermata dua.

Di Sudan, sikap pemerintah terbelah. Sebagian pihak melihat UEA sebagai mitra ekonomi penting, sementara pihak lain menilai keterlibatan Abu Dhabi memperumit konflik internal yang sudah rapuh.

Negara-negara Teluk lainnya juga mengamati pergerakan ini dengan cermat. Qatar, yang memiliki agenda regional berbeda, kerap berada pada posisi berseberangan dengan UEA dalam sejumlah isu.

Bagi sebagian pengamat, pola ini mengingatkan pada era ketika Irak dan Libya aktif bermain lintas batas. Namun, ada perbedaan mendasar dalam cara dan tujuan.

Jika Irak dan Libya dulu menantang tatanan internasional secara terbuka, UEA justru bergerak di dalam sistem global. Hubungan dekat dengan Barat menjadi perisai politik yang efektif bagi Abu Dhabi.

Kekuatan UEA juga tidak bersandar pada ideologi massa atau populasi besar. Modal utama mereka adalah finansial, teknologi militer modern, dan jaringan pelabuhan serta transportasi udara.

Hal ini membuat manuver UEA sulit disentuh secara langsung. Dukungan yang diberikan sering kali berada di wilayah abu-abu hukum internasional, bukan pelanggaran terang-terangan.

Namun, semakin luas peran UEA, semakin besar pula risiko gesekan dengan negara tetangga. Keseimbangan antara ambisi regional dan stabilitas jangka panjang menjadi tantangan tersendiri bagi Abu Dhabi.

Sebagian negara memilih beradaptasi dan bekerja sama, sementara yang lain mulai menarik garis batas tegas. Respons ini mencerminkan kekhawatiran atas dominasi satu aktor regional.

Dalam konteks ini, UEA tampil sebagai kekuatan era baru. Ia mengisi ruang yang ditinggalkan Irak dan Libya, tetapi dengan wajah dan metode yang berbeda.

Apakah peran ini akan bertahan lama atau memicu penyeimbangan dari negara lain masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, dinamika kawasan kini tidak lagi sama, dan bayang-bayang kekuatan lama hadir dalam bentuk baru.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Melayu Siam. Designed by OddThemes