Headlines

Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

‎Suriah Diduga Sedang Dijebak dengan Rasa Aman Palsu; Peristiwa Besar Menanti‎

3:48 PM
‎Israel dituding sedang menyiapkan strategi militer yang penuh perhitungan terhadap Suriah. Sejumlah analis menilai, pola serangan yang dilakukan bukan sekadar operasi rutin dengan memasuki wilayah Suriah, melainkan bagian dari taktik psikologis yang dikenal sebagai menciptakan rasa aman palsu. Strategi ini membuat target merasa aman padahal sebenarnya sedang dijebak.
‎Konsep rasa aman palsu bukan hal baru dalam dunia militer. Secara sederhana, hal ini berarti menciptakan ilusi bahwa ancaman sudah mereda atau tidak lagi relevan. Padahal, ancaman tersebut justru semakin dekat. Situasi seperti ini membuat lawan menjadi lengah dan percaya bahwa keadaan sudah terkendali.
‎Dalam kasus Suriah, Israel ditengarai tengah menggunakan pola serangan udara yang terkesan biasa saja. Misalnya, serangan terbatas pada gudang logistik atau infrastruktur pendukung, bukan langsung ke tokoh-tokoh penting militer atau presiden. Hal ini membuat pihak Suriah mungkin menilai ancaman Israel masih dalam taraf wajar dan tidak langsung mengarah ke kepemimpinan militer mereka.
‎Meski Suriah dibawah Presiden Ahmed Al Sharaa sudah mengaskan tak ingin berperang dengan Israel meski telah memperluas wilayah pendudukannya di luar Dataran Tinggi Golan mendekati Damaskus, Israel menilai belum tunduk sepenuhnya para konsep neo kolonialisme Greater Israel yang digagas Tel Aviv di Timur Tengah.
‎Para pengamat memperingatkan bahwa strategi semacam ini biasanya hanya bagian awal. Israel diduga sedang menunggu saat yang tepat ketika para komandan Suriah merasa cukup aman untuk kembali berkumpul. Pada titik inilah serangan besar bisa dilakukan dengan presisi tinggi.
‎Suriah sendiri sudah berkali-kali mengalami serangan udara Israel, terutama di sekitar Damaskus dan wilayah dekat perbatasan Lebanon. Serangan-serangan itu disebut sebagai upaya Israel merendahkan legitimasi Damaskus yang tak berdaya membela rakyat dan tentara yang tewas sia-sia dibom Israel saban hari. Damaskus menjadi lelucon di hadapan milisi Al Hajri Druze pro Israel dan kekuatan SDF Kurdi yang menguasai timur Suriah. Meski demikian, pola serangan yang sekarang terlihat lebih terarah dan sistematis.
‎Sumber keamanan regional menyebut, Israel memiliki kebiasaan menunggu lawan merasa bahwa ancaman sudah mereda. Setelah itu, serangan mendadak diluncurkan dengan target utama para pemimpin yang dianggap kunci. Pola ini pernah terlihat dalam operasi-operasi militer sebelumnya, termasuk di Gaza maupun Lebanon dan Yaman.
‎Dalam kacamata militer, rasa aman palsu adalah jebakan psikologis yang berbahaya. Musuh tidak lagi siaga penuh, justru karena mereka yakin ancaman besar sudah tidak ada. Keadaan itu membuat konsentrasi berkurang dan pertemuan penting bisa dilakukan tanpa pengamanan maksimal.
‎Israel diduga sangat memahami pola ini dan menggunakannya untuk keuntungan strategis. Serangan kecil yang dilakukan bukan tanpa tujuan, melainkan semacam umpan untuk menciptakan kesan bahwa serangan hanya sebatas mengganggu, bukan melumpuhkan.
‎Jika benar dugaan itu, maka Suriah bisa saja berada di ambang serangan besar. Operasi militer Israel berpotensi diarahkan langsung pada pusat komando militer atau tokoh strategis yang selama ini dianggap sulit disentuh.
‎Pola serangan ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengamat Timur Tengah. Mereka menilai Suriah saat ini berada dalam kondisi yang rapuh karena perang panjang yang belum sepenuhnya selesai. Kewaspadaan yang menurun bisa menjadi titik lemah yang dimanfaatkan Israel untuk membunuh Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa dan menggantinya dengan rejim baru pro Israel dan anti Turkiye, diisi oleh SDF Kurdi dan separatis Druze binaan Al Hajri.
‎Selain itu, status Dataran Tinggi Gola yanh masih diakui PBB sebagai milik sah Suriah dan pendudukan Israel dia kawasan tersebut dianggap ilegal membuat alasan Israel untuk mengganggu pemerintahan Suriah.
‎Dengan jebakan rasa aman palsu, Israel bisa menyerang sekaligus membunuh warga Suriah sedikit demi sedikit sehingga warga akan murka ke Damaskus yang bakal dianggap tak mampu melindungi warganya.
‎Meski begitu, Suriah tentu tidak tinggal diam. Sejumlah laporan menyebut, Damaskus berusaha meningkatkan koordinasi pertahanan udara. Namun, kemampuan itu masih sering kalah cepat dibandingkan kecanggihan serangan udara Israel yang menggunakan teknologi modern.
‎Jika serangan besar benar-benar dilancarkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan Suriah. Wilayah sekitar, termasuk Lebanon, Irak, dan bahkan Yaman, bisa merasakan eskalasi ketegangan yang lebih luas.
‎Strategi rasa aman palsu ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan intelijen Suriah. Jika mereka gagal membaca pola yang sedang dimainkan Israel, maka risiko kehilangan figur penting dalam militer dan pemerintahan seperti presiden tidak bisa dihindari.
‎Para analis menilai bahwa Israel berusaha memanfaatkan kelemahan psikologis lawannya. Alih-alih menghancurkan langsung dengan serangan besar sejak awal, Israel menunggu hingga lawan benar-benar percaya bahwa keadaan aman. Di titik itulah serangan diluncurkan dengan efektivitas maksimal.
‎Teror Israel ini mencerminkan pergeseran cara perang modern yang tidak hanya mengandalkan senjata, tetapi juga manipulasi psikologis. Rasa aman palsu bisa lebih mematikan dibandingkan serangan frontal yang terlihat jelas.
‎Bagi Suriah, situasi ini menjadi ujian besar dalam menjaga kewaspadaan. Meskipun serangan udara Israel terlihat rutin, ancaman sebenarnya bisa jadi lebih besar dari yang terlihat di permukaan.
‎Israel sendiri cenderung tidak memberikan keterangan resmi terkait operasi-operasinya di Suriah. Kebijakan “diam” ini justru memperkuat spekulasi bahwa strategi yang dimainkan memang penuh perhitungan.
‎Pada akhirnya, dugaan bahwa Suriah sedang dijebak dalam rasa aman palsu memberi gambaran betapa licinnya permainan geopolitik di Timur Tengah. Israel seolah memainkan waktu, sementara Suriah harus menebak-nebak kapan dan di mana serangan besar berikutnya akan datang.
‎Jika kewaspadaan Suriah terus menurun, maka jebakan rasa aman palsu bisa menjadi awal dari operasi militer Israel yang lebih mematikan. Hal ini menegaskan bahwa dalam perang modern, ancaman terbesar justru sering kali datang ketika lawan merasa sudah aman.
‎Penjelasan Rasa Aman Palsu oleh AI
‎Bagi seorang pemimpin yang ditarget dengan strategi "rasa aman palsu," langkah-langkah yang diambil harus berfokus pada menghilangkan prediktabilitas dan meningkatkan kesadaran secara konstan.
‎Tujuan utama musuh adalah membuat target lengah dan mengikuti pola tertentu. Oleh karena itu, kunci untuk bertahan adalah melakukan hal yang sebaliknya.
‎Strategi Menghadapi Rasa Aman Palsu
‎1. Peningkatan Kesadaran & Intelijen
‎Seorang pemimpin tidak boleh pernah merasa sepenuhnya aman. Ia harus membangun sistem yang selalu waspada terhadap potensi ancaman.
‎ * Diversifikasi Sumber Intelijen: Jangan hanya mengandalkan satu sumber informasi. Gabungkan data dari intelijen teknis (satelit, drone) dengan intelijen manusia (mata-mata, agen lapangan) untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
‎ * Analisis Pola Musuh: Pelajari setiap serangan kecil atau pergerakan yang dilakukan musuh. Tanyakan: apakah ini hanya gangguan atau bagian dari strategi yang lebih besar untuk membuat kita nyaman?
‎ * Pertanyakan Setiap Informasi: Selalu curigai informasi yang tampak terlalu bagus atau terlalu meyakinkan. Informasi yang "emas" bisa jadi sengaja dibocorkan untuk menjebak.
‎2. Mengubah Pola dan Rutinitas
‎Prediktabilitas adalah kerentanan terbesar. Pemimpin harus membuat dirinya tidak dapat diprediksi.
‎ * Varyasi Jadwal: Jangan pernah memiliki jadwal harian yang tetap. Ubah waktu dan tempat pertemuan, perjalanan, atau bahkan waktu makan.
‎ * Lokasi Pertemuan Acak: Hindari mengadakan pertemuan penting di satu lokasi yang sama atau lokasi yang sering digunakan. Pilih tempat yang berbeda setiap saat.
‎ * Rute Perjalanan yang Berubah:
‎Gunakan rute perjalanan yang berbeda setiap kali bepergian, meskipun rute tersebut memakan waktu lebih lama.
‎3. Pengambilan Keputusan Berbasis Risiko
‎Setiap keputusan harus melalui analisis risiko yang ketat, bukan berdasarkan asumsi.
‎ * Asumsikan Selalu Ada Mata-Mata: Seorang pemimpin harus bertindak seolah-olah setiap pergerakannya sedang diawasi oleh musuh. Ini akan mendorong kehati-hatian dalam setiap tindakan dan komunikasi.
‎ * Jangan Remehkan Serangan "Kecil": Jangan menganggap enteng serangan yang tampaknya tidak signifikan. Serangan-serangan ini bisa jadi adalah "alat pengukur" untuk menguji reaksi Anda dan mengukur pertahanan.
‎ * Buat Rencana Darurat: Selalu siapkan rencana cadangan untuk setiap skenario terburuk, mulai dari serangan mendadak hingga kebocoran informasi. Rencana ini harus dikuasai oleh lingkaran dalam yang sangat terbatas.
‎4. Kontrol Informasi dan Keamanan Internal
‎Rasa aman palsu tidak hanya soal serangan fisik, tetapi juga psikologis.
‎ * Batasi Lingkaran Dalam (Inner Circle): Kurangi jumlah orang yang mengetahui informasi sensitif. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin kecil risiko kebocoran.
‎ * Gunakan Protokol Komunikasi yang Ketat: Terapkan aturan ketat mengenai penggunaan perangkat elektronik dan komunikasi. Jangan pernah mendiskusikan informasi penting di tempat umum.
‎ * Waspadai Mata-Mata: Secara berkala, lakukan pengecekan keamanan internal untuk mendeteksi potensi mata-mata atau informan yang mungkin telah disusupkan oleh musuh.
‎Pada intinya, rasa aman yang sejati tidak datang dari ketiadaan ancaman, melainkan dari kesiapsiagaan yang konstan. Pemimpin yang bijak akan mengubah ketidakpastian menjadi senjata utamanya sendiri.

Tantangan Internal Pemerintahan Yaman dalam Akselerasi Pembangunan

8:49 AM
Di tengah situasi politik dan keamanan Yaman yang masih genting, Dewan Kepresidenan yang dibentuk untuk menggantikan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi justru menghadapi keretakan serius di tubuhnya sendiri. Salah satu aktor penting dalam pemerintahan ini, Brigadir Jenderal Tarik Saleh, kini secara terbuka berseteru dengan Presiden Dewan Rashad al-Alimi.

Sejak didirikan, Dewan Kepresidenan terdiri dari delapan anggota yang mewakili berbagai faksi dan kekuatan militer serta politik di Yaman. Presiden Rashad al-Alimi memimpin dewan ini, dengan sejumlah tokoh berpengaruh di antaranya Tarik Saleh, Aidarus al-Zubaidi dari Dewan Transisi Selatan (STC), Sultan al-Arada dari Marib, dan beberapa komandan militer dari wilayah barat dan selatan negara itu.

Ketegangan mulai mencuat ketika kantor politik milik Tarik Saleh, yakni Political Bureau of the National Resistance, mengeluarkan pernyataan keras yang mempertanyakan eksistensi mereka dalam pengambilan keputusan di Dewan Kepresidenan. Dalam pernyataan itu, tersirat kekecewaan karena Tarik dianggap dipinggirkan dari diskusi penting, khususnya terkait masa depan kawasan Taiz dan pantai barat.

Meski pernyataan itu dibalut diplomasi, para analis menilai ini adalah benturan politik pertama secara terbuka antara Tarik Saleh dengan Rashad al-Alimi. Perseteruan ini tidak semata soal kursi, tetapi terkait pengaruh regional dan alur dukungan dari kekuatan eksternal, terutama Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Tarik Saleh dianggap sebagai sosok yang banyak didukung Abu Dhabi dan punya kekuatan militer solid di pantai barat melalui pasukan National Resistance. Kehadirannya di dewan pun sejak awal disambut dengan kekhawatiran oleh Riyadh, yang cenderung lebih hati-hati dengan eksistensi faksi-faksi yang dekat dengan agenda Emirat.

Salah satu isu yang jadi sumber ketegangan adalah proyek penyediaan air bersih di kota Taiz, yang dijanjikan oleh Uni Emirat Arab. Tarik Saleh vokal mendorong percepatan proyek tersebut, karena menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Namun, upayanya justru menghadapi resistensi politik di dalam pemerintahan pusat di Aden.

Presiden Rashad dituding mencoba menghambat upaya Tarik Saleh, bukan semata karena persoalan teknis, melainkan karena tekanan politik dari Riyadh yang enggan melihat Tarik semakin menguat. Saudi memang sejak awal lebih condong menjaga keseimbangan kekuatan tanpa memberi ruang terlalu besar pada salah satu pihak.

Masalah di Taiz juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat perlawanan terhadap Houthi dan menjadi wilayah yang sebagian besar telah dibebaskan oleh milisi rakyat pimpinan Hamoud al-Mikhlafi serta tentara nasional. Sayangnya, kemenangan itu tidak diiringi dengan perhatian serius dari pemerintah pusat.

Kini, masyarakat Taiz kembali terjebak di tengah tarik-menarik politik kekuasaan. Banyak warga yang menuntut agar kebutuhan dasar, terutama air bersih dan gaji aparat keamanan serta pegawai negeri, segera dipenuhi. Namun kondisi stagnan di Dewan Kepresidenan membuat solusi belum juga hadir.

Di sisi lain, Dewan Kepresidenan dipandang gagal menunjukkan efektivitas sejak dibentuk. Pertikaian internal, tarik-menarik kepentingan, dan minimnya visi bersama untuk masa depan Yaman membuat situasi di berbagai front perang justru memburuk. Houthi kian agresif sementara kubu pemerintah terfragmentasi.

Pemerintah Saudi dan Emirat pun disebut-sebut mulai berselisih pendapat soal arah masa depan Yaman. Abu Dhabi condong mempertahankan kekuatan Tarik Saleh dan STC di selatan, sementara Riyadh berusaha menjaga struktur pusat tetap utuh di bawah Rashad al-Alimi.

Pengamat politik regional menyebut, jika Dewan Kepresidenan gagal menyatukan barisan dan membenahi sistem tata kelola internalnya, maka keberadaan dewan ini hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh. Kondisi itu akan membuka celah makin luas bagi Houthi untuk memantapkan kontrolnya.

Salah satu poin penting yang disoroti dalam pernyataan kantor politik Tarik Saleh adalah pentingnya memperbaiki sistem pengambilan keputusan di dewan, termasuk soal distribusi proyek, peran lokal di Taiz, dan pembenahan ketimpangan pemberian gaji bagi tentara dan aparat keamanan.

Sayangnya, pernyataan itu memicu reaksi keras dari loyalis Presiden Rashad, yang menuduh Tarik Saleh memainkan isu Taiz untuk kepentingan pribadi dan kepentingan politik Emirat. Narasi ini kemudian diangkat oleh media-media pro-pemerintah pusat.

Lebih buruk lagi, ketegangan ini memunculkan eskalasi kampanye media, di mana media pendukung Tarik mulai menyindir ketidakbecusan Dewan Kepresidenan. Kondisi ini dikhawatirkan semakin merusak citra pemerintah pusat di mata rakyat, khususnya di Taiz dan wilayah pantai barat.

Para analis menyebut, bila perpecahan ini terus berlanjut tanpa adanya rekonsiliasi internal, maka faksi National Resistance dan Political Bureau pimpinan Tarik Saleh bisa saja memilih keluar dari Dewan Kepresidenan. Langkah itu akan menambah fragmentasi kekuatan anti-Houthi.

Situasi ini jelas menjadi alarm bagi masyarakat internasional, sebab stabilitas Yaman pasca-perang bergantung pada kesatuan faksi-faksi pro-pemerintah. Ketika internal mereka sendiri terpecah, bukan tak mungkin Houthi kembali memanfaatkan situasi untuk memperluas wilayah kendalinya.

Sejumlah pihak di Taiz menyerukan agar Rashad al-Alimi segera melakukan reformasi di jajaran eksekutif provinsi, termasuk evaluasi terhadap gubernur. Selain itu, mereka berharap ada paket pendanaan bersama Saudi-Emirat-Qatar-Kuwait untuk proyek air, listrik, kesehatan, dan pembayaran gaji aparat.

Jika hal ini tidak segera dilakukan, bukan hanya Tarik Saleh yang akan meninggalkan dewan, tetapi juga muncul risiko Dewan Kepresidenan kehilangan legitimasi dan kendali di sejumlah wilayah strategis, memperburuk situasi kemanusiaan dan memperpanjang konflik di Yaman.

Iran Perketat Internet Demi Cegah Serangan Israel

8:42 AM
Pemerintah Iran semakin memperketat kontrol atas akses internet nasional guna menghadapi ancaman keamanan dari Israel, terutama dalam konteks meningkatnya serangan presisi yang diduga menggunakan data digital untuk membidik target di dalam wilayah Iran. Langkah ini menjadi bagian dari kebijakan luas yang bertujuan melindungi infrastruktur strategis negara dari infiltrasi teknologi asing dan perangkat lunak mata-mata buatan Israel.

Salah satu instrumen utama Iran adalah pengembangan dan penerapan penuh dari National Information Network (NIN), sebuah jaringan informasi domestik yang dikembangkan untuk menggantikan ketergantungan pada internet global. Jaringan ini memiliki dua sektor utama: satu untuk sektor publik dan pengguna bisnis, dan satu lagi untuk sektor pemerintahan. Semua pengguna jaringan wajib teridentifikasi melalui nomor induk kependudukan dan nomor telepon mereka.

Dengan NIN, Iran memiliki kemampuan untuk menutup akses ke internet luar negeri dalam waktu singkat dan mengalihkan seluruh lalu lintas digital ke jaringan domestik. Skema ini telah diuji coba penuh selama pemadaman internet nasional pada November 2019, dan terbukti efektif dalam menjaga komunikasi internal tetap berjalan sambil memblokir intervensi dari luar.

Langkah terbaru yang dilakukan pemerintah adalah menghimbau warganya untuk menghapus aplikasi WhatsApp dan aplikasi berbasis lokasi dari ponsel mereka. Imbauan ini diumumkan lewat televisi nasional dan dianggap sebagai bagian dari upaya menutup celah pengawasan digital yang bisa dimanfaatkan oleh spyware Israel untuk mengumpulkan data lokasi dan kebiasaan pengguna.

Kekhawatiran Iran bukan tanpa alasan. Sejumlah laporan menyebut bahwa Israel dan perusahaan-perusahaan teknologi yang berafiliasi dengannya telah menggunakan spyware seperti Pegasus dan Paragon untuk menyusup ke perangkat milik aktivis, jurnalis, dan pejabat negara. WhatsApp sendiri pernah menjadi medium penyebaran spyware melalui teknik "zero-click attack" yang tak membutuhkan interaksi pengguna untuk menginfeksi perangkat.

Di sisi lain, Iran juga menghadapi tantangan besar dari penyebaran perangkat Starlink yang diaktifkan secara ilegal di dalam negeri. Layanan internet satelit milik Elon Musk itu diyakini telah hadir di Iran melalui jalur pasar gelap, dengan estimasi mencapai 20 ribu terminal aktif. Meskipun perangkat ini mampu menghindari pengawasan NIN, pemerintah berupaya mendeteksi dan menonaktifkan sinyal-sinyal yang berasal dari jaringan satelit.

Untuk mengatasi ancaman ini, badan intelijen dan keamanan cyber Iran bekerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi nasional guna memantau spektrum frekuensi dan menindak setiap pemancar ilegal. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan kebijakan baru yang mewajibkan perusahaan teknologi dan data center untuk hanya menggunakan server yang berbasis di Iran dan mencatat seluruh alamat IP mereka.

Sebagai bentuk pencegahan lanjutan, pemerintah mengembangkan aplikasi domestik alternatif untuk menggantikan layanan asing seperti WhatsApp, Instagram, dan Telegram. Aplikasi-aplikasi lokal ini diawasi ketat dan dijamin keamanannya oleh otoritas siber Iran, meski masih menghadapi tantangan dari rendahnya kepercayaan publik terhadap transparansi data.

Langkah-langkah pengamanan ini juga mencerminkan perubahan paradigma Iran dalam melihat ruang digital sebagai medan pertempuran baru. Konflik yang dulunya berlangsung di darat kini telah bertransformasi ke dalam bentuk serangan siber dan manipulasi informasi melalui dunia maya, yang dampaknya bisa lebih luas dan tak terdeteksi secara kasat mata.

Ketika sebagian besar negara bergantung pada infrastruktur digital global, Iran memilih jalan berbeda dengan membangun "internet dalam negeri" yang bisa dikendalikan secara penuh oleh negara. Pendekatan ini membuat Iran lebih siap dalam menghadapi situasi darurat, sekaligus membatasi ruang gerak kekuatan asing yang ingin menyusup ke sistem komunikasi nasional.

Namun demikian, upaya untuk membendung penetrasi teknologi luar tetap menghadapi hambatan dari kebutuhan masyarakat akan konektivitas global. VPN dan perangkat satelit seperti Starlink tetap menjadi solusi bagi warga yang ingin mengakses informasi tanpa sensor, meskipun penggunaannya kini dianggap ilegal oleh negara.

Para pengamat menilai, kontrol ketat terhadap internet juga menjadi alat politik untuk menekan perbedaan pendapat, terutama di masa krisis seperti saat ini. Pemerintah Iran membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa semua kebijakan internet semata-mata demi menjaga kedaulatan digital dan keselamatan nasional.

Dengan meningkatnya intensitas konflik dengan Israel, kebutuhan akan kontrol penuh atas arus informasi menjadi semakin vital. Pemerintah Iran percaya bahwa serangan militer presisi dapat dikurangi jika musuh tidak memiliki akses langsung terhadap data digital warga negara.

Selain itu, pemerintah Iran terus menyosialisasikan pentingnya keamanan digital kepada masyarakat. Kampanye edukasi tentang risiko aplikasi asing, bahaya berbagi lokasi, dan pentingnya menjaga kerahasiaan digital terus digalakkan di sekolah, universitas, dan media nasional.

Iran tampaknya akan terus memperkuat NIN dan memperluas jangkauannya di seluruh wilayah negara. Rencana pengembangan jaringan 5G nasional dan peluncuran sistem operasi dalam negeri juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mandiri secara teknologi dan digital.

Di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat, Iran memilih memperkuat benteng digitalnya sebagai langkah perlindungan strategis. Dunia maya kini bukan lagi sekadar ruang komunikasi, melainkan menjadi lini depan pertahanan negara di era konflik modern.

Tekanan Trump: Strategi Pecah Belah Global Baru?

3:10 PM
Kebijakan luar negeri Donald Trump, meskipun tak lagi di bawah sorotan Gedung Putih, kembali menggema lewat strategi tekanan yang mengingatkan pada pola adu domba. Setelah sebelumnya sukses menekan sejumlah negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, kini strategi serupa tampaknya tengah digencarkan terhadap negara-negara mitra dagang Amerika, kali ini dengan sasaran utama: China.

Pada masa pemerintahannya, Trump mendorong perjanjian Abraham yang membuat beberapa negara Arab—seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko—mengakui Israel secara resmi. Namun langkah ini tidak serta merta membawa perdamaian di Timur Tengah. Justru, ia memicu ketegangan baru di antara negara-negara Arab sendiri, menciptakan kesan seolah pengakuan terhadap Israel merupakan legitimasi atas tindakan brutal dan genosida yang dilakukan terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Kini, Trump dan lingkaran politiknya dikabarkan tengah merancang tekanan serupa di bidang perdagangan global. Lebih dari 70 negara dikabarkan sedang didekati untuk menandatangani komitmen membatasi kerja sama dengan China. Kompensasinya: keringanan tarif dari Amerika Serikat. Tekanan ini disusun secara sistematis untuk membenturkan negara-negara sahabat China agar berpaling dari Beijing demi keuntungan sesaat dari Washington.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah dunia akan kembali terjebak dalam logika geopolitik pecah belah seperti era Perang Dingin? Trump tampaknya memosisikan dirinya sebagai arsitek blok baru, bukan berdasarkan nilai-nilai demokrasi atau HAM, melainkan kepentingan ekonomi dan dominasi politik semata.

Yang menjadi perhatian khusus adalah bagaimana negara-negara BRICS — Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan — menyikapi tekanan ini. Mereka dikenal sebagai kekuatan alternatif yang tengah mencoba mengurangi ketergantungan pada Barat dan mempromosikan tatanan multipolar. Namun, akankah mereka mampu bertahan dari godaan atau ancaman yang dilontarkan dari Washington?

Di beberapa negara, tekanan ini mulai terasa. India, misalnya, yang menjalin kerja sama erat dengan AS dalam bidang militer dan teknologi, juga merupakan anggota BRICS dan memiliki hubungan ekonomi yang dalam dengan China. Posisi dilematis ini membuat India harus berhati-hati agar tidak terseret dalam konflik kepentingan dua kekuatan besar.

Hal yang sama dirasakan oleh Brasil, yang tengah mencari investasi untuk sektor agrikultur dan infrastruktur. Sementara Rusia dan China secara terbuka menolak tekanan Amerika, negara-negara BRICS lain tampaknya berada dalam posisi “wait and see”.

Trump tampaknya tak hanya ingin menekan, tapi juga memecah. Dalam kasus Timur Tengah, ia berhasil memisahkan negara-negara Arab dalam dua kubu: yang mengakui Israel dan yang menolaknya. Retorika "perdamaian" yang dibawanya nyatanya hanya menyisakan lebih banyak luka dan polarisasi. Strategi yang sama kini sedang diterapkan ke kawasan Asia dan Amerika Latin.

Lebih dari sekadar tekanan ekonomi, pola ini mengindikasikan penggunaan pendekatan geopolitik yang manipulatif: menjanjikan keuntungan ekonomi dengan syarat mengorbankan hubungan diplomatik yang telah lama terjalin. Ini bukan sekadar urusan perdagangan, melainkan upaya membentuk ulang konstelasi kekuasaan global.

Strategi ini juga tampak mengabaikan konteks dan dinamika regional. Negara-negara yang memiliki sejarah panjang kerja sama dengan China, seperti negara-negara ASEAN atau Afrika, tentu tidak dapat serta merta membalik haluan hanya karena iming-iming insentif dari AS. Ada harga politik dan sosial yang harus dibayar.

Isu ini menjadi ujian besar bagi negara-negara yang ingin mempertahankan kedaulatan dalam kebijakan luar negerinya. Terlebih lagi, ketika tekanan dari negara besar seperti AS disertai dengan narasi “jika tidak bersama kami, berarti melawan kami”, pilihan yang tersedia menjadi semakin sempit.

Indonesia misalnya, yang memiliki posisi strategis di Indo-Pasifik, juga harus menanggapi isu ini dengan cermat. Ketergantungan pada China dalam sektor investasi dan perdagangan tidak bisa begitu saja diputus. Namun pada saat yang sama, hubungan baik dengan AS juga penting bagi stabilitas kawasan.

Yang dikhawatirkan, jika negara-negara berkembang terlalu mudah tergoda oleh tawaran sepihak, maka lahirlah ketergantungan baru — bukan pada barang murah dari China, tapi pada sistem tekanan diplomatik dari AS. Ini bisa melemahkan kemandirian dan posisi tawar negara-negara tersebut dalam percaturan global.

Dalam konteks inilah, strategi Trump patut dipertanyakan. Apakah ini benar-benar upaya membangun aliansi baru yang seimbang, atau hanya pengulangan pola lama: memecah, menguasai, dan memanen keuntungan politik?

Lebih ironis lagi, tekanan ini datang di saat dunia tengah menghadapi krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel kini justru dituding melegitimasi genosida yang terjadi, hanya karena tak berani bersuara lantang. Hal yang sama bisa terjadi jika negara-negara tunduk pada tekanan AS terhadap China.

Jika dahulu tekanan digunakan untuk memecah solidaritas Arab, kini hal itu sedang dijajal untuk memecah negara-negara mitra dagang China. Strategi ini bukan hanya berbahaya, tapi juga melemahkan potensi kerja sama global yang lebih inklusif dan seimbang.

Yang dibutuhkan dunia saat ini bukanlah kutub-kutub baru yang dibangun atas dasar tekanan, tapi jembatan-jembatan diplomasi yang memperkuat perdamaian dan keseimbangan kekuasaan global. Negara-negara seperti Indonesia, India, Brasil, dan Afrika Selatan memiliki peluang besar untuk memainkan peran penengah.

Agar dunia tidak kembali terjebak dalam polarisasi ala Perang Dingin, diperlukan keberanian politik untuk menolak dikotomi yang dipaksakan. Dunia multipolar seharusnya menjadi ruang dialog, bukan arena tekanan.

Jika tidak, maka sejarah akan kembali berulang: kekuatan besar bertikai, sementara negara-negara kecil terpaksa menjadi pion dalam permainan yang bukan milik mereka.

Ekonomi Pengungsi Suriah: Kontribusi dan Potensi di Turki

2:35 PM
Gelombang pengungsi Suriah yang mengalir ke Turki sejak awal dekade lalu telah membawa serta bukan hanya kisah pilu, tetapi juga semangat kewirausahaan yang luar biasa. Di balik bayang-bayang kesulitan dan ketidakpastian, muncul sebuah fenomena yang menarik perhatian: gurita bisnis pengungsi Suriah yang kini menggurita di berbagai sektor ekonomi Turki.

Kisah mereka bukanlah sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang membangun kembali, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian negara yang menampung mereka. Dengan modal keberanian dan ketekunan, para pengusaha Suriah ini telah mampu mendirikan ribuan perusahaan, mulai dari usaha kecil hingga perusahaan berskala besar.

Sektor tekstil, makanan, dan konstruksi menjadi beberapa bidang yang paling banyak digeluti oleh para pengusaha Suriah. Keahlian dan pengalaman yang mereka bawa dari tanah air, dipadukan dengan semangat inovasi, telah menghasilkan produk-produk berkualitas yang mampu bersaing di pasar lokal maupun internasional, semua ini akan menjadi modal pembangunan di dalam negeri di bawah kepemimpinan Presiden Ahmad Al Sharaa.

Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah. Tantangan seperti keterbatasan modal, hambatan bahasa, dan birokrasi yang rumit seringkali menjadi batu sandungan. Meski demikian, semangat pantang menyerah dan jaringan kekerabatan yang kuat menjadi modal utama mereka untuk mengatasi segala rintangan.

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi pengungsi Suriah di Turki sangatlah signifikan. Ribuan perusahaan yang mereka dirikan telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja, baik dari kalangan pengungsi maupun warga Turki. Investasi yang mereka tanamkan pun mencapai miliaran dolar, dan produk-produk mereka telah merambah pasar ekspor ke berbagai negara.

Keberhasilan ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi Turki, tetapi juga menjadi bukti bahwa pengungsi bukanlah beban, melainkan potensi yang dapat dikembangkan. Mereka adalah sumber daya manusia yang berharga, dengan keahlian dan semangat yang dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Namun, di tengah gelombang keberhasilan ini, muncul pula tantangan baru. Sentimen anti-pengungsi yang semakin meningkat di beberapa kalangan masyarakat Turki menjadi ancaman bagi stabilitas usaha mereka. Oleh karena itu, penting bagi para pengusaha Suriah untuk bersatu dan membangun jaringan yang kuat, agar suara mereka dapat didengar dan kepentingan mereka dapat dilindungi.

Organisasi-organisasi seperti Siba Turk dan Suriad memainkan peran penting dalam memperjuangkan kepentingan para pengusaha Suriah. Mereka menjadi wadah untuk saling berbagi informasi, membangun jaringan, dan memperjuangkan kebijakan yang mendukung perkembangan usaha mereka.
Meskipun demikian, masih ada tantangan dalam membangun sebuah entitas yang benar-benar mewakili seluruh pengusaha Suriah. Perbedaan pandangan dan kepentingan seringkali menjadi penghalang bagi terciptanya persatuan yang solid.

Namun, potensi ekonomi yang dimiliki oleh para pengusaha Suriah sangatlah besar. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan di Turki, bahkan di kawasan regional.

Melihat ke depan, peluang bagi para pengusaha Suriah di Turki tampak semakin cerah. Dengan pertumbuhan ekonomi Turki yang terus berlanjut, dan dengan semakin terintegrasinya pasar regional, permintaan akan produk-produk berkualitas yang dihasilkan oleh para pengusaha Suriah diperkirakan akan terus meningkat.

Selain itu, potensi kerjasama dengan pengusaha Turki dan investor asing juga terbuka lebar. Kolaborasi ini dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas, serta meningkatkan daya saing produk-produk Suriah.

Namun, untuk mewujudkan potensi ini, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Turki, organisasi internasional, dan masyarakat sipil. Pemerintah Turki perlu menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para pengusaha Suriah, dengan memberikan akses yang lebih mudah ke modal, pelatihan, dan pasar.

Organisasi internasional dapat memberikan bantuan teknis dan finansial, serta memfasilitasi kerjasama antara pengusaha Suriah dengan mitra-mitra internasional. Masyarakat sipil dapat memainkan peran penting dalam membangun jembatan antara pengungsi dan warga Turki, serta mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang kontribusi positif pengungsi bagi masyarakat.

Dengan dukungan yang tepat, gurita bisnis pengungsi Suriah di Turki dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian negara tersebut. Mereka adalah contoh nyata dari semangat kewirausahaan dan ketahanan, dan mereka adalah bagian penting dari masa depan Turki.

Selain dari Tiongkok, Rusia Diperkirakan Mendapat Pasokan Senjata Iran

7:40 AM
Perang Rusia di Ukraina semakin memanas setelah Iran disebut memasok bantuan rudal ke Moskow. Sedangkan Kiev terus dipasok beragam misil canggih dari negara-negara Barat. 

Senjata-senjata Teheran diselundupkan ke Irak dan kemudian dikirim ke Moskow. Demikian diungkap anggota milisi Irak pro-Iran dan dinas intelijen regional yang mengetahui proses tersebut. 

Menurut laporan The Guardian, Rabu (13/4/2022), rudal RPG dan anti-tank, serta sistem peluncur roket rancangan Brasil, telah dikirim ke Rusia dari Irak saat invasi Moskow di Ukraina tersendat pada bulan lalu. 

Sistem rudal Bavar 373 buatan Iran, mirip dengan S-300 Rusia, juga telah disumbangkan ke Moskow oleh pihak berwenang di Teheran, yang juga mengembalikan S-300. Hal itu diungkap sumber yang membantu mengatur transportasi tersebut.

Saling Tuduh Ukraina dan Rusia Sebagai Teroris Buntut Invasi

4:09 PM
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh pasukan Rusia mengerahkan taktik teror saat invasi militer mereka terus berlanjut. Zelensky bahkan menyebut tindakan pasukan Rusia di Ukraina akan disamakan dengan tindakan teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Dalam postingan terbaru via Facebook, seperti dilansir BBC dan kantor berita Ukraina, Ukrinform, Sabtu (12/3/2022), Zelensky menuduh pasukan Rusia telah menahan Wali Kota Melitopol Ivan Fedorov. Disebutkan Zelensky bahwa tindakan semacam itu akan membuat Rusia disamakan dengan teroris ISIS.

"Hari ini di Melitopol, penjajah menangkap Wali Kota Ivan Fedorov. Seorang wali kota yang dengan berani membela Ukraina dan warga masyarakatnya," sebut Zelensky dalam pernyataannya, merujuk pada pasukan Rusia.

Saat Tiongkok dan Hindu India Mulai Klaim Kandahar, Afghanistan Sebagai Milik Mereka Secara Historis

1:15 PM
Kota Kandahar sempat akan dijadikan ibukota oleh pemerintahan IEA Taliban di Afghanistan jika Kabul tidak sapat dikuasai.

Namun ternyata, Presiden Ashraf Ghani keburu kabur dan meminta suaka ke UEA. 

Kaburnya presiden diduga karena ingin dibunuh oleh wapres Amrullah Saleh yang kebelet kudeta dan memperkuat posisi eks Aliansi Utara yang kini sudah kalah di Panjshir usai diduduki Taliban.

Bahkan saat Kabul berhasil dikuasai Taliban, pemerintahan IEA tetap melempar wacana menggunakan Kandahar sebagai ibukota jika AS dkk tidak juga hengkang sebagaimana disepakati dalam perjanjian.

Belakangan, usai penarikan AS dkk dari bandara Kabul 31 Agustus 2021, wacana itu ditarik dan dibantah.


Walau begitu pemimpin tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada yang juga menjadi Amirul Mukminin bagi Afghanistan akan tetap berada di Kandahar sebagai pemimpin spiritual yang posisinya mirip dengan Ali Khamenei.

Di masa mendatang, posisi Kandahar akan semakin krusial dalam peta politik lokal karena Akhundzada tetap akan memainkan peran dalam pemilihan setiap kepala negara, presiden, menteri dan pimpinan militer.

India yang merasa 'kalah' dengan Pakistan dalam politik di Afghanistan mulai melakukan klaim historis ke kota Kandahar yang mereka sebut sebelumnya sebagai Gandhara.

Menurut mereka Gandhara adalah wilayah Hindu yang secara historis milik India.

Tak mau kalah, Tiongkok juga mengkalim bahwa Kandahar dulunya merupakan wilayah Dinasti Tang.

India, Pakistan dan Tiongkok memang mau tak mau terlibat dalam isu politik internal Afghanistan karena kedekatan budaya masing-masing.

Namun beberapa pihak memperkirakan ikut campur India ke dalam politik Afghanistan justru akan menarik Taliban yang kini berkuasa di Afghanistan dalam diskursi politik internal India sendiri.





Ethiopia Dilaporkan Beli Drone Mohajer-6 dari Iran

1:48 PM
Untuk melawan pemberontak Tigray (TPLF), Ethiopia dilaporkan mulai memberi banyak drone di antaranya Mohajer - 6 dari Iran.

Pembelian ini cukup mengejutkaj karena sebelumnya Tiongkok dan Israel dilaporkan sudah memasok beberapa drone.

Masuknya produk Iran diperkirakan juga bagian dari diplomasi Ethiopia untuk mencari kawan sebanyak mungkin termasuk dari Turki.

Pemberontak TPLF mempunyai peluang menggulingkan pemerintah Ethiopia menyusul kerjasama dengan OLA, pemberontak Oromia.

Kuil Preah Vihear yang Diperebutkan oleh Thailand dan Kemboja Ternyata Dulu Istananya Sultan Mudzaffar Syah

8:10 PM
Kuil Preah Vihear atau Prasat Preah Vihear yang diperebutkan oleh Thailand dan Kemboja sebenarnya sebuah istana seorang raja bernama Po Chan atau nama 'Melayu'nya Sultan Mudzaffar Syah.

Saat itu kerajaan Ayutia atau Ayutthaya merupakan penguasa Siam atau Thailand sekarang.

Menurut Kronik Kerajaan Kedah Pasai Ma, kerajaan Ayuthia merupakan kerajaan Islam Siam yang kemudian direbut oleh orang-orang Thai usai mengkudeta Raja Taksin atau Muktar Hussin Panglima Ayuthia yang menjadi pemersatu Thailand sekarang.

Warga Thai hanya bagian kecil dari bangsa Siam saat itu walau saat ini kata Siam menjadi identik dengan Thai.

Sultan Muzaffar Shah III alias Syeikh Ahmad Alqomi dan Sejarah Kerajaan Islam Siam yang Merupakan Bagian dari Kedah Pasai Ma

11:25 AM
Sultan Muzaffar Shah III yang merupakan raja terakhir Kerajaan Islam Benua Siam ternyata pendiri Kerajaan Ayutthaya atau Ayutia yang pernah berkuasai sampai dirunruhkan Sukhothai.

Sultan Muzaffar Shah III inilah yang digelar Syeikh Almad Alqomi yang banyak keluarganya menjadi bangsawan Thailand sampai sekarang dengan marga Bunnaq dan Ahmad Cula bagi yang masih Muslim.

Lihat referensi:



3. Sejarah Kerajaan Islam Siam (note Thaksin berasal dari kata Mukhtar Hussin)


Hubungan Turki dengan Pemerintah Penyelamat Suriah (SG) Seperti Tiongkok dengan Korut

7:57 PM
Hubungan antara Turki dan pemerintahan penyelamat Suriah (SG) di Idlib terlihat mirip dengan hubungan Tiongkok dengan Korea Utara.

Di satu sisi, Turki dituduh oleh semua pihak sebagai pencipta atau penyokong utama SG, namun di sisi lain SG tidak tindak tunduk pada Turki.

Pasukan yang loyal malah mengusir pemerintahan sementara Suriah (SIG) yang kini telah menjadikan wilayah yang dikuasai Turki/SNA di Utara Suriah sebagai ibukota sementara. Tidak di Idlib lagi.

Sebagaimana Tiongkok yang selalu ditekan AS untuk menghukum Korea Utara atas segala sikap 'nakal' Pyongyang, begitu juga Turki selalu disalahkan jika ada kejadian di Idlib, khususnya di daerah SG.

Turki juga tidak bisa meninggalkan begitu saja wilayah Idlib karena daerah tersebut masuk dalam wilayah zona aman dengan garansi Turki sesuai dengan perjanjian ketiga belah pihak Rusia, Iran dan Turki.

Ini sama seperti Tiongkok yang tidak bisa meninggalkan Korut sendirian walau elite di Pyongyang tidak bisa didikte.

Dan masih banyak kesamaan lainnya.

Iran Luncurkan Simulator Ilyushin II-76 Buatan Dalam Negeri

11:55 AM

Angkatan Udara Militer Republik Islam Iran meluncurkan sistem simulator buatan dalam negeri untuk pesawat Ilyushin Il-76 pada hari Senin, 6 Juli 2020. Ilyushin Il-76 adalah pesawat buatan Rusia.

Apa Modal Turki, UAE dan Arab Saudi Menjadi Superpower Regional?

10:20 AM
Arab Saudi, UAE dan Turki saat ini dinilai menjadi kekuatan superpower regional yang disegani.

Walaupun mereka tidak ambisius, peran mereka tetap dibutuhkan dan diundang pihak lain untuk menyelesaikan masalah.

Dalam konflik di Yaman misalnya Presiden Yaman meminta langsung keterlibatan Saudi untuk menengahi konflik di sana.

Begitu juga, UAE di Somaliland dan Turki di Libya.

Namun begitu untuk menjadi negara yang menjadi tumpuan negara lain, dibutuhkan modal besar.

Arab Saudi dan UAE mempunyai modal besar secara finansial dll sementara Turki tidak terlalu mempunyai kekuatan yang unggul.

Walaupun begitu belakangan Turki mulai bangkit dan menciptakan beberapa inovasi yang bisa menjadi modal mereka.

Hal itu mereka tunjukkan khususnya di sektor teknologi.

Seperti dalam video ini:

Libya Butuh Minimal 2 Juta Pasukan untuk Pertahankan Integritas Negara

8:33 AM

Dengan jumlah pasukan yang hanya 32 ribuan, pemerintah GNA di Tripoli yang diakui dunia akan sangat sulit untuk menyatukan semua wilayahnya.

Apalagi saat ini, dengan lobi-lobi di belakang layar antara para jenderal GNA dan LNA yang bertikai dan juga jalur-jalur komunikasi para tetua yang masih buntu, banyak pasukan dari pemerintahan sementara Suriah (SIG/SNA) sudah kembali ke negaranya karena habis kontrak.

Sekitar 5 ribu pasukan SNA sudah kembali ke Suriah setelah kontrak 3 bulanan selesai. Sisanya sekitar 10 ribu juga bakal kembali ke Suriah jika dialog di belakang layar masih deadlock.


Walaupun tentara yang loyal ke GNA selalu mengatakan mampu untuk merebut kembali Sirte dan Al Jufra namun itu akan menjadi pertempuran yang berdarah-darah.

Kecuali Tripoli dalam waktu singkat dapat memobilisasi warganya minimal 2 juta, karena masih banyak wilayah selain Sirtendan Al Jufra.

Kota-kota besar seperti Benghazi, Tobruk dan Derna akan sulit ditaklukkan dari tangan pemberontak. Begitu juga di wilayah selatan.

Kecuali memang akan mempertahankan status quo menunggu semua pihak terbuka hatinya untuk berunding dan mencapai kesepakatan politik dengan damai.

Namun itu juga sangat tidak mungkin karena pemberontak LNA dari awal sudah tidak ingin mencapai kesepakatan damai.

Selain itu LNA bisa saja lebih dahulu akan menambah jumlah pasukannya sehingga yang bakal terancam justru GNA seperti yang sudah terjadi sebelumnya.


Mengapa Somalia tak Bersedia Diajak UAE Perang di Yaman?

7:05 AM
Uni Emirat Arab dilaporkan mengajak Somalia untuk ikut perang di Yaman. Namun ajakan itu ditolak Somalia walaupun diimingi akan membuka kembali rumah sakit gratis di Mogadishu.

Tidak dijelaskan apa alasan utama penolakan tersebut. Namun pastinya dalam kode etik internasional intervensi pada urusan dalam negeri negara lainnya adalah tidak pantas.

Jika dilihat dari fakta di lapangan berdasarkan sumber-sumber berita bahwa penolakan itu, jikapun bersedia, adalah sebagai berikut:

1. Angkatan Bersenjata Somalia masih sangat muda dibangun kembali. Dulu itu Somalia memang superpower regional yang pernah mengalahkan Ethiopia, intervensi di Burundi, Tanzania, Kenya dll, mendukung Mozambique melawan Portugal dll, namun semuanya sudah hancur. Dan baru dibangun kembali belakangan setelah perang saudara berkepanjangan.

2. Pemerintahan Federal Somalia masih sangat lemah. Beberapa negara bagian di bawahnya justru mempunyai angkatan bersenjata lebih kuat. Somaliland bahkan tak patuh ke pemerintahan federal Somalia dan punya tentara yang lebih kuat untuk mendirikan negara sendiri.

3. Somalia masih mempunyai kelompok pengganggu Al Shabab yang berkaitan dengan beberapa agen intelijen asing. Kelompok ini bisa saja mengganggu konsentrasi Somalia jika ikut UAE berperang di Yaman, khususnya membantu Yaman Selatan yang notabene tidak didukung oleh Arab Saudi yang bersahabat baik dengan Somalia. Pemberontak Yaman Selatan hanya didukung UAE.

4. Tentara Somalia yang baru dibangun dengan susah payah dengan bantuan Uni Afrika dan investasi besar-besaran dari Turki yang notabene sering menjadi musuh UAE di politik regional.

5. Panglima angkatan bersenjata Somalia yang baru berusia 33 tahun pasti lebih ingin negaranya aman daripada aponturir di luar negeri.

6. Berjuang bersama UAE di Yaman tidaklah mudah karena pasukan Yaman Selatan jumlahnya hanya sekitar 10 ribu. Sementara yang harus dilawan adalah pasukan Yaman di Aden yang jumlahnya 30 ribu itu belum lagi pasukan di bawah Houthi yang jumlahnya 100 ribu.

7. Jikapun UAE kecewa dengan sikap Somalia, masih ada negara kaya lainnya seperti Qatar yang punya investasi di Somalia.

8. UAE investasi besar-besaran di Somaliland, negara bagian yang ingin merdeka tanpa izin pemerintahan federal Somalia. Artinya UAE justru mendukung lawan di politik dalam negeri.

Somalia Akui Presiden Terpilih Negara Jubaland tapi Hanya untuk Sementara

2:16 AM
Pemerintahan Federal Somalia akhirnya mengakui Ahmad Madobe sebagai presiden Jubaland tapi hanya untuk sementara atau dua tahun.

Namun hal itu ditolak oleh Madobe yang menyebut sesuai dengan konstitusi Jubaland presiden terpilih menjabat selama empat tahun.

Jubaland melaksanakan pemilihan umum baru-baru ini namun proses tersebut tidak diakui oleh pusat. Walaupun begitu hasilnya tetap diakui sebagai konpromi namun hanya untuk dua tahun.


Somalia memiliki banyak negara bagian yang sudah mendeklarasikan diri. Namun saat semua negara tersebut berkumoul telah menyetujui pembentukan negara federal kecuali Somaliland yang tetap ingin merdeka dan mandiri sendiri.

Permasalahan sering timbul saat pemerintah federal dianggap terlalu sentralistik dalam menggunakan wewenangnya sehingga menimbulkan perlawanan oleh negara-negara bagian.

Baca:


Negara Galmudug di Somalia Batalkan Investasi Qatar?

2:04 AM

Negara Galmudug di Somalia dilaporkan membatalkan secara sepihak investasi dari Qatar untuk membangun pelabuhan dan infrastruktur lainnya.

Pemerintahan Galmudug berencana akan membangunnya dengan investasi lokal mengingat lambannya pembangunan oleh pihak Qatar.

Usai peresmian pembukaan proyek beberapa waktu yang lalu, tidak ada satupun progres dari pembangunan.

Qatar menandatangani perjanjian dengan pemerintahan federal Somalia di Mogadishu yang memberikan konsesi kepada negara Teluk itu untuk memukai pembangunan.

Tidak diketahui penyebab lambannya pembangunan apakah karena Covid-19 atau penyebab lainnya.

Qatar diketahui bersaing dengan Uni Emirat Arab dalam menggarap proyek-proyek investasi di negara-negara bagian Somalia. UAE menggelontorkan investasi besar-besaran di Somaliland tanpa persetujuan pemerintah pusat.


Galmudug pernah mendeklarasikan kemerdekaannya namun tidak diakui oleh banyak pihak. Namun begitu Galmudug menjalin hubungan yang baik dengan pemerintahan federal.

Sementara itu Somaliland juga mendeklarasikan kembali kemerdekaannya dari Somalia dan sampai saat ini berusaha mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Walau pemerintah pusat hanya mengakui Somaliland sebagai negara bagiannya namun tidak punya kendali sama sekali dengan Somaliland.

Galeri Angkatan Bersenjata Pemerintahan Penyelamat Yaman (Houthi)

11:54 PM

Angkatan bersenjata di bawah pemerintahan penyelamat Yaman dikenal terkuat dan terbanyak jumlahnya di Yaman.

Berpusat di Sanaa, angkatan bersenjata ini juga didukung oleh milisi Houthi. Total jumlahnya diperkirakan 100 ribuan.

Teka-Teki di Balik Mandegnya GNA Menguasai Libya

10:31 PM
Banyak yang bertanya mengapa pemerintahan GNA Libya di Tripoli yang diakui dunia berhenti mengusir pemberontak dari kekuasaannya di Libya.

Saat ini, setelah berbulan-bulan dikepung di kantong kecil Tripoli, GNA berhenti mengejar pemberontak LNA yang berpusat di Tobruk itu.

Niat untuk menguasai Sirte dan Aljufra pun akhirnya terhenti.

Meski sudah terjadi perimbangan kekuatan usai GNA minta bantuan Turki, kelihatannya pihak-pihak di GNA memang masih ada yang tidak ingin kemenangan bagi pemerintahan Tripoli.

Bila dilihat dari sejarah terbentuknya GNA adalah hasil kesepakatan dua pihak sebelumnya yang bertikai. Yakni antara GNC yang memerintah di Tripoli dan LNA yang memerintah di Tobruk.

Dalam sebuah kesepakatan yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa terbentuklah pemerintahan kesepakatan GNA yang anggotanya terdiri setengah dari GNC dan setengah lagi dari LNA.

GNC akhirnya membubarkan diri. Namun LNA tidak. Dalam sebuah friksi berikutnya, GNA dan LNA malah bertikai walau setengah dari anggota GNA adalah wakil dari LNA.

LNA akhirnya membentuk pemerintahan sendiri di Tobruk. Dari sinilah malapetaka itu terjadi.

Satu persatu wilayah Libya takluk ke LNA dan hanya tinggal 2/3 Tripoli yang dikuasai GNA.

Namun saat Turki bersedia membantu GNA dan hampir bisa mengusir LNA dari bagian barat Libya, tiba-tiba anggota GNA yang sebelumnya berasal dari LNA mengatakan keberatan jika GNA menguasai Timur dengan menguasai Sirte dan Al Jufra.

Walau kelihatan di depan publik ada pertikaian sengit antara GNA dan LNA, sebenarnya ada ruang komando di belakang yang diketahui PBB yang terdiri dari 5 jenderal GNA dan 5 lainnya jenderal LNA.

Selain itu, ada juga hubungan tidak resmi antar tokoh-tokoh masyarakat di belakang layar.

Itulah yang membuat Turki akhirnya terlihat hanya bisa mengikuti ritme permainan yang ada.

Dan satu lagi faktor yang tidak selalu dilaporkan ke publik. Bahwa perusahaan minyak Libya tidak sepenuhnya di bawah kontrol salah satu pihak.

Lalu ketika Wagner, pasukan bayaran dari Rusia menguasai ladang-ladang minyak Libya perusahaan minyak Libya hanya bisa mengomel-omel.

Karena perusahaan ini sebenarnya mempunyai pasukan sendiri untuk menjaga objek vital dan sering tidak tunduk kepada GNA dan LNA.

Pasukan objek vital ini tidak ingin pasukan GNA masuk untuk melakukan perlindungan walau sebelumnya pasukan LNA dan belakangan Wagner justru masuk dan tidak bisa diusir.
 
Copyright © Melayu Siam. Designed by OddThemes